Menunggu dan menunggu

Di manapun negaranya, siapapun orangnya, berapapun umurnya,

setinggi apapun status sosialnya, sebagian lebih manusia- manusia di abad

ini memiliki pekerjaan panjang melelahkan yang tidak  mengenal henti dalam

hidup: menunggu!

Sehingga dalam totalitas, dari seratus persen waktu hidup manusia  mungkin

lebih dari 90 persen isinya menunggu.

Bagi orang-orang tertentu, menunggu bahkan dibawa sampai ke alam mimpi.

Bayangkan,  kerap mereka bermimpi menunggu, atau bermimpi sudah sampai.

Berbeda dengan menunggu kereta atau pesawat misalnya, kecewa datang  dalam

frekuensi yang lebih jarang.

Bila yang ditunggu sepuluh jadwal  kereta, mungkin kurang dari setengahnya

saja yang berujung kecewa.

Namun mereka yang hanya mengenal menunggu dalam hidup, hampir selalu

berujung kecewa.

Seorang sahabat di dunia kejernihan pernah bertutur: as soon as the

desired objects are obtained, the happiness ends and new desires arise.

Begitu sesuatu yang diinginkan diperoleh, kebahagiaannya berakhir dan

keinginan baru muncul. Dengan kata lain, setiap garis finish pencaharian

menjadi garis start baru untuk pelarian berikutnya yang lebih berat.

Bisa dimaklumi kalau kemudian kehidupan berwajah berat, keras, lelah,

stress dan sejenisnya.

Berefleksi di atas cermin-cermin kehidupan seperti inilah, maka sejumlah

pejalan kaki di jalan-jalan kejernihan dengan penuh keberanian

menghentikan kegiatan menunggu. Untuk kemudian berkonsentrasi pada masa kini.

Mungkin layak diendapkan, kalau salah  satu diantara pejalan kaki ini

pernah berucap: ’satu-satunya hidup  yang rill dan hidup adalah hari ini.

Masa lalu sudah mati, masa depan belum datang’.

Memang ada benarnya sahabat yang menyebut kalau masa depan disiapkan sejak

hari ini. Cuma, bila begitu sampai kebahagiaannya hilang digantikan oleh

keinginan yang baru, kesia-siaan hanya bisa dihindari kalau berkonsentrasi

di hari ini.

Seorang penulis di jalan-jalan kejernihan bernama Eckhart Tolle dalam  The

Power of NOW, bahkan berani berspekulasi : "authentic human power  is

found by surrendering to the Now".

Tidak saja kegiatan menunggu yang berhenti, tidak saja kecewa yang

berkurang, bahkan kekuatan otentik manusia bisa ditemukan ketika manusia

ikhlas total pada masa kini.

Di bagian lain Tolle menulis :  it is here we find our joy, are able to

embrace our true self. It is  here we discover that we are already

complete and perfect.

Di sini di hari ini, kita bisa berpelukan dengan diri kita yang

sebenarnya. Di tempat yang sama juga kita bisa merasakan betapa kita

sudah lengkap dan sempurna.

Siapapun manusianya, ketika sudah berani melangkah yakin ke hari ini,

berpelukan dengannya, apa lagi menemukan kesempurnaan di

sana

, itulah

tanda-tanda kalau kita mulai keluar dari lingkaran menunggu dan kecewa.

Cerita ini memang hanya kiasan. Orang lain memang tidak bisa memberi

apa-apa sehingga tidak perlu diminta dan ditagih.

Dan di hari ini di dalam sini, sebuah tempat yang sering kita lupakan dan

tinggalkan  melalui kegiatan menunggu dan kecewa, di sanalah emas dan

berliannya  berada, bukan dalam apa yang kita tunggu

Adakah sahabat yang pernah menemukan emas dan berlian di

sana

?

Walahualam bisawab..

(Quote from Gde Prama)

It’s not about waiting…but its about living…..

Leave a Reply